Malam ini adalah malam kamis dan bulan depan adalah bulan November. Pikiranku jadi melayang pada sebuah kisah yang terjadi dua tahun silam, pada malam kamis dan bulan November.
Saat itu, aku sedang belajar di sekolah. Kakakku masih harus tinggal di pesantren, sementara Ayah akan dinas di luar kota. Hanya nenek, mama, bibi, dan abangku sajalah yang tinggal di rumah.
Sepulang sekolah, aku hanya melihat nenek dan bibi di rumah. “Mama sama Abang ke mana nek?” tanyaku setelah mencium tangan nenek.
“lagi ke rumah sakit”jawab nenek dengan singkat.
Mungkin mama sedang memeriksa perkembangan kandungannya. Sekitar beberapa minggu yang lalu, aku sempat melihat video adikku di dalam kandungan mama saat mama menjalankan USG. Terlihat adikku yang sedang bergerak-gerak di dalam perut mama. Ia begitu sehat dan lucu. Rasanya, aku sudah tidak sabar lagi menunggu kelahirannya dan ingin segera bermain-main dengannya.
Setiap hari, aku selalu memeriksa lemari yang berisikan pakaian dan segala perlengkapan bayi yang sudah disiapkan sebelumnya untuk adikku. Setiap kali aku melihat dalam lemari itu, banyak angan-angan dan khayalanku tentang adikku yang sebentar laagi akan lahir.
Sore harinya, tante dan abangku datang ke rumah. Mereka menyuruhku agar bersiap-siap ikut ke rumah sakit. Aku pun segera menurutinya. Beberapa saat kemudian, aku sudah rapih dan siap untuk ke rumah sakit. Namun, sebelum berangkat, tante merangkul pundakku dan menatap wajahku dalam-dalam. Entah apa makna dari semua itu.
“Nak, yang sabar ya” ucap tante padaku.
Apa maksudnya tante berkata seperti itu? Perasaanku menjadi tidak enak dan takut.
“Adik kamu meninggal” lanjut tante dengan iba.
Mendengar itu, aku benar-benar terkejut. Seolah tak percaya dengan kenyataan yang ada.
“Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun” ucapku terbata-bata dengan mata yang berkaca-kaca.
Akhirnya, kami segera ke rumah sakit. Dan disitulah kulihat jasad adikku untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Aku tak kuat lagi menahan air mata. Aku benar-benar sedih saat itu. Khayalan dan harapanku tentangnya terkubur begitu saja seiring kepergiannya.
Malam harinya, keluargaku sudah terkumpul di rumah sakit. Kakak, abang dan aku sendiri begitu sedih melihat si adik bayi yang ditunggu-tunggu kelahirannya hanya diam mebisu dan menutup mata.
Kulihat ayah dan mama yang berusaha tetap tegar menghadapi ujian ini walau dalam hati merekalah yang paling sedih sebenarnya.
Begitulah kisah yang saat ini tiba-tiba saja mengitari pikiranku. mengingat almarhum adikku yang saat ini sedang menikmati keindahan syurga.
Semoga kami sekeluarga dapat bertemu dengannya di syurga dan kelak kami akan berkumpul selama-lamanya di sana. Aamiin.