Get Gifs at CodemySpace.com Get Gifs at CodemySpace.com

Minggu, 03 April 2011

Cerpen 1


DEMI AKU
Oleh: Adilah Nursilmi Hia

Kemarin ada acara Futsal Competition antar SMA. Dan sekolahku yang memenangkannya. Faren yang membobol gawang sebanyak 3 kali. Faren adalah pacarku. Ia begitu menyukai olahraga sepak bola dan sejenisnya. Tapi tiap kali aku mendekatinya setelah bermain sepak bola, ia selalu saja menjauh dariku. Padahal, maksudku baik. Aku ingin seperti Adlia yang menghampiri lalu membantu Rhadli membenahi semua perlengkapannya setelah latihan atau lomba basket. Sayangnya, Faren tidak seperti itu. Sifatnya begitu cuek.
Ku rebahkan tubuhku ke atas kasur sepulang sekolah. Tak terasa air mataku terjatuh. Aku sedih karena Faren selalu bersikap acuh padaku. Tidak jarang aku tanya penyebabnya padanya tapi ia tidak pernah mau menjelaskannya padaku. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada di hatinya. Apakah ia sudah bosan denganku atau...??? Entahlah.
Malam harinya aku pergi untuk menghadiri Pensi. Sebagai panitia, aku berperan sangat sibuk. Hingga saatnya acara Pensi selesai, aku bersama yang lain merapikan panggung dan sebagainya. Faren sama sekali tidak menghampiriku. Padahal, aku berharap dia menyapaku dan mengantar aku pulang karena hari sudah semakin malam. Ya sudahlah, aku pulang dengan teman-temanku saja. Aku sudah lelah banyak berharap darinya. Kalau begini terus, mungkin sebentar lagi hubungan kami akan putus.
Setelah mengerjakan tanggung jawabku, aku duduk di tangga teras sembari menunggu yang lain selesai bekerja. Aku melamun sekalian beristirahat.
Tiba-tiba aku melihat boneka kecil yang jatuh di hadapanku. Boneka itu begitu imut dan lucu. Aku mengambilnya dan saat ku tekan bagian tengahnya, boneka itu mengeluarkan suara. Aku sempat terkejut dibuatnya.
“I’m sorry, i love you” begitulah suara boneka yang ku tekan tadi. Suaranya seperti anak kecil, membuat aku jadi tersenyum.
“Lucu yaaa...” gumamku sambil memutar-mutarkan boneka itu.
“Tapi kok bisa ada di sini ya?” tanyaku sendiri dengan suara yang pelan.
“Itu dari aku” jawab seseorang yang tak asing lagi bagiku. Tiba-tiba saja ia duduk di sampingku. Dia adalah Faren. Aku hanya diam menahan semua kekecewaanku terhadapnya.
“Amel, kamu marah ya?” tanyanya menatap wajahku. Aku langsung memalingkan wajah darinya.
Faren menghela nafasnya sejenak. “Gini aja deh, sekarang kamu mau nggak terima boneka itu sebagai tanda maaf aku?” tanyanya dengan senyuman.
“Ya uuudah” jawabku sok jual mahal.
“Alahhh... bilang aja kamu juga suka sama tuh boneka. Ngaku aja deh, nggak usah sok jual mahal...!” ia menggodaku dengan senyuman yang lebar sambil menyikut tubuhku. Ah, jarang sekali aku melihatnya seperti ini. Ternyata dia tahu apa yang ada di pikiranku. Aku senang sekali. Tapi, apakah sikap Faren yang sangat ramah padaku seperti sekarang ini akan bertahan lama?
Esok harinya adalah hari Minggu. Rhadli dan Adlia mengajak aku dan Faren untuk jalan-jalan ke kebun teh.  Aku membujuk Faren agar ia mau ikut. Akhirnya ia mengiyakan. Tak lama kemudian, Rhadli dan Adlia datang menjemputku dan setelah itu kami menjemput Faren di rumahnya.
Sekitar setengah jam kemudian, tak terasa kami tiba di kebun teh.
“Aduh lupa bawa jaket lagi” ujar Faren tiba-tiba. Mendengar itu, Rhadli menepuk keningnya.
“Lhoh... emangnya kita mau camping?” tanyaku polos.
“Bukan begitu...” jawab Rhadli. Aku tahu sepertinya ia ingin meneruskan perkataannya tapi Faren langsung memotong perkataan Rhadli.
“Enggak kok Mel nggak apa-apa” jawabnya sambil tersenyum.
Aku merentangkan kedua tangan. Ku rasakan betapa sejuknya berada di gunung di tengah-tengah kebun teh. Saat aku menatap ke kiri, aku melihat ada bunga terompet di ujung sana. Tanpa pikir panjang aku langsung berlari untuk memetik bunga yang berada di tempat yang tinggi itu karena aku sangat menyukai bunga yang segar itu.
“AMEL...!!!” terdengar suara Faren yang begitu keras memanggilku. Aku tidak menghiraukannya. Ternyata ia mengejarku dan Rhadli mengikuti dari belakang. Sementara Adlia menyuruhku untuk berhenti.
“Hosh... hosh... hosh... ini daerah pegunungan Mel. Kamu jangan sembarangan lari!” ujarnya berhasil menahanku. Ia menasehatiku dengan nafas yang terengah-engah sambil mengusap keringat yang ada di dahinya.
“Mmm... aku kan mau ngambil bunga terompet itu” jawabku polos sambil menunjuk tempat yang tinggi itu. Faren tercengang melihatnya.
“Ya udah, kamu tunggu di sini biar aku yang ngambil” ujarnya lalu pergi. Aku tersenyum melihat Faren yang ketus tapi ternyata karena dia khawatir padaku.
“LO UDAH GILA YA???” tanya Rhadli kelihatannya panik. “Gue aja yang ngambil sekalian gue ngambil juga buat Adlia” tambahnya.
“Lo petik aja buat Adlia dan gue metik buat Amel” jawabnya acuh.
Rhadli tidak bisa lagi mencegahnya. Sebenarnya aku sempat ge er saat Faren berkata seperti itu. Tapi, yang aku heran mengapa Rhadli begitu khawatir dengan Faren? Di balik perasaanku yang bangga dengan sikap Faren, masih ada sedikti kekecewaan di hatiku. Entah mengapa aku yakin pasti ada sesuatu yang dirahasiakannya dariku.
“Ah Faren... kenapa sih kamu begitu tertutup sama aku?” batinku. Tanpa ku sadari, Faren dan Rhadli sudah turun dengan membawa bunga terompet.
Aku sempat tertawa dalam hatiku. Ku lihat Rhadli membawa dua tangkai bunga terompet yang besar-besar dan satu tangkai bunga terompet yang kecil lalu dipasangkan di daun telinga Adlia sehingga Adlia terlihat begitu manis. Lain hal nya dengan Faren yang membawa satu batang bunga terompet hingga akar-akarnya dan dalam satu batang itu ada banyak sekali bunga terompet.
“Nih bunganya! Ditanam ya, biar kamu inget terus sama aku” tutur Faren manis padaku dengan terengah-engah. Mungkin karena lelah setelah mengambil bunga untukku. Aku tahu Faren tidak mau kalah dengan Rhadli. Aku pun menerimanya sambil mengucapkan terima kasih. Setelah itu kami meneruskan perjalanan kami. Tiba-tiba...
“Aduh! Dingin banget ya...” ucap Faren sambil mendekap tubuhnya.
“Kita pulang sekarang!!!” perintah Rhadli lalu menarik tangan Adlia dan aku menuntun Faren pelan-pelan. Aku jadi merasa bersalah karena sudah merepotkan Faren sehingga Faren seperti ini.
“Faren, maafin aku ya...” ucapku penuh rasa sesal.
“Nggak apa-apa kok” jawabnya lembut dan masih sempat tersenyum tulus walau ia menggigil kedinginan. Sepertinya, aku harus menghilangkan rasa raguku padanya. Aku batalkan niatku untuk memutuskan hubunganku dengannya walau sampai kini ia masih tertutup denganku.
***
Esok harinya di Sekolah...
Rhadli datang untuk menemui Adlia. Setelah mereka bicara sebentar, aku menanyakan Faren padanya karena mereka satu kelas. Ternyata Rhadli belum masuk ke kelasnya. Ya sudahlah, tidak masalah bagiku.
Sebelum pelajaran pertama dimulai, Adlia menceritakan pembicaraannya dengan Rhadli barusan. Kata Adlia, Rhadli akan menyusul Adlia di rumahku setelah makan siang kemudian mereka akan pergi jalan-jalan. Manis sekali hubungan mereka. Seandainya saja aku dan Faren bisa seperti itu.
Sepulang sekolah, aku dan Adlia makan siang bersama di rumahku sembari menunggu kedatangan Rhadli. Satu jam berlalu sudah tapi Rhadli belum juga datang. Tak lama kemudian, sms dari Rhadli masuk ke handphone Adlia. Ku lihat Adlia cepat-cepat membacanya. Namun, mengapa tiba-tiba raut wajahnya jadi memelas ya? Tidak biasanya ia sedih seperti ini. Apa mungkin Rhadli membatalkan janjinya?
“Kalau Rhadli nggak jadi ngajak lo jalan-jalan, jangan sedih gitu dong. Kan lo bisa di sini sama gue” saranku agar ia tidak sedih lagi.
Adlia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bukan itu yang gue maksud” jawab Adlia menatapku. Kalau bukan itu yang dia maksud, lantas apa?
“Faren dirawat di rumah sakit dan sekarang Rhadli ada di sana” jelas Adlia terbata-bata seolah tahu pertanyaan yang ada di pikiranku.
Seketika itu aku terkejut. “Faren dirawat???” tanyaku parau.
Akhirnya aku dan Adlia cepat-cepat ke rumah sakit. Memikirkan keadaan Faren yang kini dirawat di rumah sakit, hatiku jadi down. Kepanikan, ketakutan, kesedihan dan kekhawatiran berkecamuk di benakku.
Di dalam mobil, aku menelpon Rhadli untuk menanyakan nomor kamar di mana Faren dirawat. Ku dengar suara Rhadli yang berusaha menghalangi Faren berbicara denganku. Namun, Faren tetap saja berhasil berbicara denganku. Aku sedih sekali mendengarnya berbicara dengan nafas yang terengah-engah.
“Amel, hghh... ka...kamu hghh... ma...mau... ke... hghh... si...sini ya?” tanyanya lembut tapi begitu berat.
“I...iya aku mau jenguk kamu. Kamu istirahat aja ya...” saranku padanya dengan suara yang juga berat karena menahan isakku sementara air mataku terus terjatuh.
“Faren... hiks...hiks...” lagi-lagi air mataku terjatuh.
Akhirnya, aku segera mematikan telepon agar Faren tak lagi berbicara.
Sesampainya di rumah sakit, aku menarik tangan Adlia dengan erat. Aku berjalan dengan langkah yang terburu-buru. Tak ku hiraukan orang-orang yang kebingungan melihatku berjalan cepat sambil menarik tangan Adlia. Akhirnya, kami pun sampai di depan tempat Faren dirawat. Cepat-cepat aku membuka pintu kamar itu.
“Faren, mana Faren?” ucapku panik membangunkan Rhadli  yang sepertinya nyenyak sekali tidur di sofa.
“Faren mana Rhad?” tanyaku padanya dengan nada lelah.
Rhadli segera berdiri dan berjalan menemui Faren dengan aku dan Adlia yang mengekorinya.
Rhadli dan Adlia mempersilahkan aku duduk di kursi di sebelah kanan Faren. Ku lihat Faren terbaring lemah dengan selang di hidungnya dan ada infusan di pergelangan tangan kanannya. Ku biarkan ia tertidur pulas dengan layar frekuensi yang ada di sampingnya.
“Kenapa Faren bisa dirawat dan sakit separah ini sih Rhad?” tanyaku dengan wajah memelas. Aku yakin Rhadli tidak tega melihatku seperti ini. Hingga akhirnya ia mengajak aku dan Adlia duduk di sofa untuk menceritakan semuanya tentang Faren. Pelan-pelan Rhadli menceritakan agar semuanya jelas. Kata Rhadli, Faren memang mengendap penyakit asma semenjak naik ke kelas satu SMP dan makin lama penyakit itu makin menjadi-jadi. Itulah salah satu sebab mengapa Faren sering menjauh bila aku mendekatinya jika ia merasa lelah. Ternyata ia tidak mau aku mengetahuinya.
“Kenapa Faren nggak terus terang sama gue? Toh gue nggak akan ngejauhin dia kalo gue tau dari awal” aku menyesali keadaan ini.
“Bukan itu sebabnya. Dia nggak kasih tau ke lo bukan karena takut lo ngejauhin dia, tapi karena dia nggak mau lo sedih, Mel” jawab Rhadli meyakinkanku.
 “Oya, waktu dia ngasih lo bunga terompet di kebun teh kemarin bukan karena dia capek, melainkan asmanya mulai kambuh. Makanya, gue maksa kita harus pulang saat itu juga” tambahnya. Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Aku hanya bisa menyesali semuanya. Ternyata aku terlalu cepat berprasangka pada Faren.
“Dan perlu lo tau, Mel. Faren pernah bilang sama gue bahwa apa aja akan dia lakukan demi lo, Mel” gumam Rhadli lagi.
Mendengar itu, air mataku lagi-lagi terjatuh. Rasanya, ingin sekali aku memutar waktu agar aku bisa menjalin hubuganku dengan Faren tanpa ada rahasia dan pengorbanan di sebelah pihak. Setelah aku tau semuanya, ternyata Faren jauh lebih banyak berkorban demi aku baik dengan sepengetahuanku maupun yang tanpa sepengetahuanku. Aku jadi merasa bersalah padanya.
“Amel, kamu udah hghh...datang ya...?” terdengar suara Faren yang begitu parau.
Aku, Rhadli dan Adlia terkejut mendengarnya. Kalau Faren bisa bicara, itu berarti ia melepas alat oksigennya. Cepat-cepat kami menghampirinya dan Rhadli segera menutup kembali alat oksigen tersebut namun, Faren menahannya tak kalah kuat dengan tekanan tangan Rhadli. Untung ada Adlia yang dengan cepat menarik tangan kiri Faren dan langsung menahannya agar Faren tidak bisa menepis Rhadli. Kami semua menjadi panik dan terus menegur Faren yang terus memaksa diri untuk bicara. Saat ia ingin melepas tangan Rhadli yang menahan alat yang menutupi mulutnya itu dengan tangan kanannya, aku segera menepis tangan kanan Faren dan langsung memeluknya dengan tangisku yang semakin menjadi-jadi.
“Kamu harus bertahan Faren, demi aku” pohonku padanya diiringi tangis yang semakin mendalam.
Setelah bersandar padanya, aku duduk kembali di kursi yang ada di samping ranjangnya. Ku tatap wajah Faren dengan penuh penghayatan.
“Faren, maafin aku. Aku...” belum ku teruskan perkataan maafku, Faren langsung menempelkan jari telunjuknya di bibirku pertanda agar aku tidak meneruskan kata-kata itu. Di saat yang begitu menyedihkan bagi dirinya, ia masih sanggup untuk tersenyum padaku dan menghapus setiap tetesan air mata yang jatuh di pipiku.
Dalam diamku, aku berdo’a semoga Tuhan menyembuhkannya dan mengembalikan semangat hidup Faren seperti dulu bahkan lebih baik dari itu. Amin.
Selang beberapa waktu kemudian, keluarga Faren datang dengan dokter beserta suster dan membawanya ke ruang UGD. Di luar pintu ruangan tersebut, kakak perempuan Faren yang bernama kak Manda menasehatiku dengan santun.
“Kalau kamu mau ketemu Faren, nanti aja ya pas Faren udah pulang ke rumah supaya kejadian tadi nggak terulang lagi” tuturnya dengan cara bicara yang dewasa. Aku menjawabnya dengan menganggukkan kepalaku.
“Nanti kalau kakak nggak sempet ngabarin tentang Faren ke kamu, biar Diki yang kasih kabar. Ok?” tambahnya. Diki adalah adik Faren yang paling kecil dan ia berteman dekat dengan adikku, Adel.
***
Enam hari kemudian...
Hari mulai sore, aku masih melamun di belakang rumah dari tadi siang sambil memandang bunga terompet pemberian Faren yang ku tanam. Tak lupa ku letakkan handphone di sampingku. Siapa tahu ada orang yang menghubungiku untuk memberi kabar tentang Faren.
Tepat sekali dugaanku. Tak lama dari itu, handphone-ku berdering dan aku segera menjawabnya. Ternyata telepon dari Diki dan ia mengabarkan tentang Faren padaku.
“Kak Faren udah pulang kak. Tadi di rumah sakit kak Faren sempat bilang kalau kak Faren udah pulang ke rumah, suruh kak Adlia terutama kak Amel dan kak Rhadli ngeliat kak Faren di rumah. Sekarang, kak Faren udah nungguin” tuturnya panjang.
Aku senang sekali mendengar Faren sudah pulang. Itu berarti Faren sudah sembuh. Rasanya, aku ingin cepat-cepat melihatnya, mendengar semua ceritanya, mengembalikan semangatnya yang sempat kandas dan apa sajalah yang penting ada di dekatnya.
“Engh... sekarang kak Farennya bisa diajak ngomong nggak? Kakak kangen banget nih sama dia” tanyaku pada Diki tapi ia malah diam dan perlahan ku dengar isakan tangis kecilnya. Sepertinya, ia berusaha menahan tangisnya itu tapi gagal. Ya Tuhan... ada apa lagi?
“Enggak bisa kak karena kak Faren lagi tidur. Tidur untuk selama-lamanya hiks...hiks...” jawabnya sambil menangis.
Mendengar itu, tubuhku lemas seketika dan handphone-ku terjatuh begitu saja tanpa ku hiraukan bagaimana Diki di seberang sana yang belum mengakhiri pembicaraannya. Mengapa harus berakhir seperti ini?
Tanpa ku duga, Adlia datang menghampiriku dan langsung memelukku. Dan saat itu juga ku lepas tangisku sekencang-kencangnya. Adlia berusaha menenangkanku walau aku tahu batinnya pun merasakan kesedihan seperti yang aku rasakan. Dapat ku lihat mata Adlia yang berkaca-kaca.
Cepat-cepat aku mengganti pakaianku dan pergi menuju rumah Faren bersama Rhadli dan Adlia. Sial sekali! Perjalanan kami dirundung kemacetan. Berkali-kali Rhadli meng-klakson mobil sekeras-kerasnya dengan wajah yang kesal dengan keadaan jalan, sedih karena kepergian sahabatnya, dan khawatir karena waktu yang begitu singkat untuk dapat melihat jasad Faren yang masih di rumah.
Dan ternyata kekhawatiran Rhadli pun terjadi. Saat kami sampai di depan rumah Faren, semua kerabatnya belum lama meninggalkan rumah untuk mengebumikan jasadnya. Dengan optimis Rhadli berkata bahwa masih ada kesempatan untuk menyusul ke pemakaman Faren.
Sesampainya di pemakaman Faren, kami bertiga berlari menerobos kerumunan orang-orang yang melihat jasad Faren yang ingin dikebumikan. Kami benar-benar melihat Faren dikebumikan di depan mata kami. Saat itu aku berusaha menahan semua rasa pedihku hingga tubuhku terasa sangat lemah. Aku tak sanggup lagi melihatnya.
***
Malam harinya di dalam kamar, aku duduk di depan meja belajar sambil menatap foto Faren yang tersenyum manis. Tapi sayang, kini aku tak dapat lagi melihat senyum langsung darinya. Seandainya ada, itu tak lain dari sekedar senyuman yang semu.
“Kak, tadi Diki nelpon. Katanya, kakak nggak boleh sedih. Dan boneka yang dikasih kak Faren waktu itu untuk menghibur kakak kalau inget kak Faren” tutur Adel yang tiba-tiba saja masuk ke kamarku.
Aku mengangguk dan berusaha tersenyum di hadapannya lalu memeluknya erat sambil memegang boneka pemberian Faren. Setelah Adel pergi, barulah aku bisa melepas tangis kepedihanku sambil mendekap foto dan boneka dari Faren. Betapa aku sangat merasa kehilangan Faren. Tapi, seperti yang dikatakan Faren melalui Diki bahwa aku tidak boleh larut dalam kesedihan ini. Aku akan berusaha menjalankannya walau lambat sekalipun.
Akan ku simpan boneka pemberiannya baik-baik sebagai penghibur di kala hatiku lara. Dan akan ku jaga bunga terompet yang diambilnya untukku tanpa menggubris penyakitnya itu sebagai penawar saat hati ini dilanda resah dan gelisah.
“Terima kasih untuk segalanya yang kamu berikan untukku Faren. Aku selalu berdo’a semoga kamu selalu bahagia di sisi Tuhan dan kelak kita dapat bertemu kembali di sana. Amin” batinku penuh harapan.
Aku akan selalu berusaha kuat menerima kenyataan ini dan harus sadar bahwa semua yang diciptakan Tuhan akan kembali pada-Nya.

2 komentar:

  1. wah..ceritanya sedih banget...
    jadi ikut terharu deh bacanya...!!!

    BalasHapus
  2. makasih yaa cha :D
    tapi ini cuma fiksi ko, hehe ^__^

    BalasHapus